Palu Aroma menyengat masih terasa menusuk hidung ketika melangkahkan kaki di Kawasan Jalan Manggis, bekas Perumnas Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Sudah hampir empat bulan sejak 28 Septeber 2018 bencana gempa bumi bermagnitudo 7,4 disertai likuefaksi melanda wilayah itu. Namun pemandangan di salah satu daerah bekas padat penduduk di Kota Palu itu belum ada perubahan yang berarti. Di sana-sini masih terlihat gundukan tanah yang tinggi dan puing-puing perumahan yang terjungkil balik hancur akibat likuefaksi.
Lebih kurang 48,7 hektare luas areal pemukiman di daerah Palu Barat itu porak poranda dihantam bencana mengerikan itu. Ribuan orang diduga terkubur hidup-hidup bersama harga benda mereka di lokasi ini. Sebagian besar dari para korban tidak lagi berhasil diangkat jenazahnya sampai saat ini.
Sekelompok anak tampak bermain-main di antara puing-puing reruntuhan rumah dan gundukan tanah bekas likuefaksi. Mereka seperti tidak peduli dengan keadaan yang terjadi. Namun, anak-anak itu juga suka memerhatikan setiap orang yang lewat atau berhenti sejenak untuk menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan itu.
Wartawan SP yang berada di lokasi itu, Kamis (17/1) mencoba mendekati anak-anak tersebut. “Kalian sedang buat apa di sini?,” tanya SP.

Salah satu anak menyahut “Bermain sambil melihat-lihat bekas rumah kami yang hancur diterjang bencana,” kata Mahmud (13), salah satu dari anak-anak tersebut.
Mahmud mengaku, kehilangan ayah dan ibunya. Ketika likuefaksi terjadi beberapa detik setelah gucangan gempa yang sangat hebat jelang magrib, Jumat (28/9-2018), Mahmud sedang bermain agak jauh dari rumahnya.
“Saya menemukan jenazah ibu saya pada hari kedua setelah bencana. Ibu saya terjepit di antara reruntuhan rumah. Sementara ayah saya, saat kejadian sedang berada di acara festival Palu Nomoni di Pantai Talise. Sampai sekarang ayah saya tidak ditemukan,” ujar Mahmud lirih.
Mahmud mencoba menunjuk ke arah kurang lebih 200 meter dari lokasi ia berdiri dimana terlihat bekas reruntuhan rumah di antara gundukan tanah yang terbelah-belah dan memastikan itu adalah rumahnya.
“Itu rumah saya, ada sarang burung waletnya. Di situ saya temukan ibu saya tidak bernyawa lagi,” katanya.
Memang di lokasi ini diperkrakan lebih dari 5.000 orang terkubur hidup-hidup ditelan bumi beserta dengan seluruh harta bendanya, saat peristiwa yang sangat dasyat itu terjadi. Sebagian besar dari korban sampai saat ini tidak dapat lagi dievakuasi jenazah mereka, saking dalamnya reruntuhan tanah yang menimbun rumah-rumah warga.
Para penduduk yang selamat, saat ini diungsikan antara lain ke sekitar Kelurahan Balaroa yang tidak terdampak likuefaksi, Duyu, Donggala Kodi dan Gawalise.
Menurut Aci, anggota forum korban likuefaksi Perumnas Balaroa (FKLPB), hasil survey sementara menunjukkan ada 700 warga perumanas Balaroa yang sudah berhasil ditemukan jenazahnya. Sementara ada 312 orang yang hilang diduga tewas tertimbun reruntuhan rumah mereka.
“Itu data sementara berdasarkan laporan warga yang sudah masuk. Kami masih terus melakukan pendataan dan kemungkinan data jumlah korban masih bertambah,” katanya kepada SP, Kamis.
Ia mengakui bahwa lokasi bekas likuefaksi di Perumnas Balaroa belum banyak berubah, atau masih seperti kondisi semula waktu dihantam gempa. “Belum diratakan. Kami tidak tahu mengapa terjadi keterlambatan penanganan di lokasi bencana tersebut,” kata Aci.
FKLPB sendiri saat ini sedang berusaha mengumpulkan dana untuk memperbaiki akses jalan sehingga masyarakat mudah datang ke Pasar Inpres Manonda Palu, untuk membeli berbagai kebutuhan hidup mereka.
Tuntutan
Sebelumnya, Senin (14/1), sekitar 1.000 warga korban likuefaksi Balaroa berdemonstrasi ke Kantor Gubernur dan DPRD Provinsi Sulteng di Palu. Aksi demo dipimpin Ketua FKLPB Abdul Rahman Kasim.
Ada enam tuntutan pendemo yakni, menolak direlokasi ke wilayah lain, menolak pembangunan hunian sementara (huntara) dan segera dibangunkan hunian tetap (huntap), anggaran huntara agar segera dikompensasi untuk korban likuefaksi Balaroa, distribusi sembako untuk pengungsi Balaroa harus berbasis data valid, dan santunan bagi korban harus segera direalisasikan.
“Sampai sekarang, huntara bagi pengungsi Balaroa belum ada kejelasan dari pemerintah. Begitupun untuk huntap,” kata, Abdurahman Kasim, di sela-sela aksi demo.
Rahman yang juga seorang pengacara itu mengatakan, jika tuntutan mereka tidak segera dipenuhi, maka para pengungsi Balaroa akan menuntut pemerintah terkait dan akan demo kembali berkali lipat setiap saat.
Ketua Pansus Pengawasan Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana (P3B) DPRD Sulteng Yahdi Basma, saat menerima para pendemo mengatakan merespon sepenuhnya tuntutan para pendemo.
“Dari diskusi yang berkembang dalam rapat di Pansus, sebaiknya kita desak pemerintah pusat untuk stop pembangunan huntara dan sebaiknya segera bangun huntap,” tegas Yahdi dari Fraksi Partai Nasdem.
Sumber: Beritasatu/Suara Pembaruan

