PALU – Kunjungan kerja Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) di tenda penyintas warga Petobo, Ahad, (11/11) di warnai aksi bentang spanduk dari puluhan warga Petobo korban likuifaksi.
Spanduk yang bertuliskan “ Pak Wapres Kami Butuh Air, Air, Air ” yang dibentangkan warga tersebut mendapat blokade dari sejumlah pasukan pengawal presiden (Paspampres) dan Polisi Pamong Praja (PP).
Ketua Forum Warga korban Likuifaksi Petobo, Yahdi Basma mengatakan, aksi sederhana ini sengaja tanpa toa (pengeras suara), karena hanya sekadar ingin bentangkan spanduk agar dapat dibaca oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla yang sedang kunjungan kerja meninjau HUNTARA di Sigi dan Petobo-Palu.
Dia mengatakan, aksi bentang spanduk yang dilakukan oleh Forum Warga Korban Likuifaksi Petobo tadi, justru di tutupi oleh barikade puluhan Intel dan Pol PP sebab kata dia, tak sesuai SOP kunjungan kerja Wapres.
“Lipat paksa spanduk nya…!” demikian hardik salah satu Paspampres. Seketika itu, seorang pakaian sipil diduga intel memaksa warga yang pegang spanduk untuk melipat spanduknya, namun warga bertahan dan tetap bentangkan spanduk,” kata Yahdi kembali.
Dia menambahkan, sejak bencana 28 September lalu, hingga kini, 11 Nopember 2018, jumlah penyintas Petobo yang selamat dari gulungan likuifaksi berada di tenda sedikitnya 3.011 jiwa , sangat kekurangan pemenuhan kebutuhan air bersih.
“Sistem supplay air bersih dari tangki- tangki ke tandon warga, berlangsung selama ini, menyisahkan berbagai masalah baru, selain penyakit dan problem sosial bawaan,” kata dia.
Problem sosial bawaan dimaksud kata dia, karena tenda-tenda penyintas tidak semua miliki tandon. Kecemburuan antar warga jadi masalah baru. Tangki yang aktif supplay, selain PMI (14 ret rata-rata per hari), Damkar dan sejumlah Relawan.
“Saat masa tanggap darurat memang cukup memadai, karena banyak supplay dan jumlah pengungsi belum lebih 1.500 jiwa. Hari ke hari sejak Tanggap Darurat dicabut 16 Oktober 2018, tenda Petobo atas ini dihuni berbondong-bondong warga Petobo yang sebelumnya mengungsi di berbagai tempat lain seputar Kota Palu dan Loru Sigi,” ujarnya.
Untuk itu kata dia, atas sikap anti-aspirasi yg dipertontonkan Aparat Sipil (Pol PP) dan sejumlah intel ini, Forum Warga Korban Likuifaksi Petobo menyatakan sikap, mendesak Pemerintah/Pemda laksanakan kewajibannya terhadap kebutuhan pokok warga khususnya pemenuhan air bersih.
Kemudian kata dia, menolak pelaksanaan proyek Air Bersih dengan metode sumur bor, yang saat ini sedang dilaksanakan, kecuali Pemerintah segera menyampaikan , rekomendasi ilmiah dari Otoritas Geologi.
“Bahwa dengan Sumur Suntik/Sumur Bor, tidak berdampak bagi kerentanan gempa di masa depan. Warga butuh layanan informasi ilmiah yang memadai, dan wajib dilakukan Pemerintah,” tekanya.
Dia sangat menyesalkan dan meminta Pimpinan Paspamres dan Kaban Pol PP Kota Palu, untuk memberi penjelasan, SOP mana yang dimaksud bahwa spanduk tak bisa bisa dipasang di titik kunjungan kerja Kepresidenan.
Seharusnya kata dia, telisik pada isi spanduk, bukan bendanya. Isi spanduk yang dibentangkan warga hanya soal satu aspirasi pokok yag terkait hajat hidup orang banyak. (IKRAM)

