Skrol untuk membaca pos

Guru dan Murid Trauma, Aktivitas Belajar di Sulteng belum Maksimal

Muh. Rifai
A-AA+A++

Jakarta — Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampangilei, mengatakan bahwa aktivitas belajar di wilayah yang terkena dampak bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah sudah mulai berjalan, tapi belum maksimal karena guru dan murid masih mengalami trauma.

“Guru-guru sebagian terdampak. Jadi masih trauma akibat gempa tersebut, termasuk murid muridnya, termasuk orang tuanya tidak mengizinkan anak-anak itu kembali ke sekolah dulu,” kata dia.

Menurut Willem, dari aspek fasilitas, banyak sekolah yang mengalami kerusakan sehingga kegiatan belajar mengajar harus dialihkan sementara ke tenda darurat.

Willem mengatakan bahwa demi menunjang kegiatan belajar mengajar, Kementerian Pendikan dan Kebudayaan mendirikan 240 tenda darurat sesuai standar Badan Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (Unicef).

“100 tenda sudah terpasang dan 140 tenda Insyallah hari ini bisa terpasang semua,” kata Willem.

Terkait jumlah korban bencana, Willem menyampaikan bahwa sebanyak 22 siswa meninggal dunia, 33 siswa masih hilang, dan 1 siswa lainnya mengalami luka berat.

Sementara itu, untuk korban guru, sebanyak 22 orang meninggal, 14 orang masih hilang, dan 2 orang masih dirawat inap.

Diketahui, jumlah korban meninggal dunia akibat bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah, per 8 Oktober 2018 pukul 13.00 WIB, meningkat menjadi 1.948 korban.

Jumlah tersebut terdiri dari 1.539 korban dari Palu, 171 korban dari Donggala, 15 dari Parigi Moutong, dan 1 korban dari Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, dari total jumlah korban, sebagian korban dimakamkan secara massal.

Sementara sebagian yang lain dibawa oleh keluarga untuk dimakamkan secara pribadi. CNN Indonesia/Red