‘Bintang’ Menyatu di Langit Palu Bersama Duo Ratu BERANI
Senin malam, 12 Mei 2025, langit di atas Lapangan Imanuel Palu seperti ikut bersinar. Puluhan ribu warga Sulawesi Tengah dari berbagai daerah berkumpul, menutup rangkaian panjang perayaan HUT ke-61 Provinsi Sulawesi Tengah yang telah berlangsung sebulan penuh sejak 19 April 2025.
Di tengah gegap gempita itu, panggung Semarak Sulteng Nambaso memunculkan kejutan yang membuat ribuan pasang mata terpaku dengan tampilnya ‘Duo Ratu BERANI’.
‘Duo Ratu BERANI‘, sebuah julukan yang disematkan langsung oleh Gubernur Anwar Hafid sejak masa kampanye lalu, akhirnya benar-benar “mengguncang” panggung. Di atas panggung itu, dua sosok perempuan tangguh, yakni, Wakil Gubernur Reny Lamadjido dan Ketua TP-PKK Sulteng, Sry Nirwanti Bahasoan, tampil memukau dalam format yang jarang sekali terlihat dari pejabat publik. Sebuah pertunjukan musik penuh energi dan kehangatan.
Reny Lamadjido memegang gitar dengan percaya diri, petikannya yang epic membangun atmosfer yang segera disambut suara merdu Sry Nirwanti, vokalis malam itu. Tak hanya berdua, Gubernur Anwar Hafid pun ikut menyumbangkan suara, menciptakan harmoni yang membetot perhatian seluruh lapangan.
Lagu yang mereka pilih bukan sembarang lagu. “Bintang” dari Anima Band, sebuah tembang yang sarat rasa, menjadi pilihan mereka malam itu. Petikan gitar yang mengalun dan suara vokal yang mendayu menghipnotis penonton.
Tak sedikit masyarakat yang hanyut dalam suasana. Banyak yang histeris, bernyanyi bersama, hingga tak tahan untuk mengabadikan momen itu dengan ponsel mereka. Satu per satu lirik dinyanyikan, menggema memenuhi langit Palu. “Kan Kuabaikan..Sgala Hasratmu..Agar kamu tenang dengan nya”. Bait-bait itu menggema, terutama bagi mereka yang mengenal makna menunggu dalam ketidakpastian.
“Lagu ini cocok sekali dinyanyikan di acara seperti ini. Hangat, penuh rasa, dan membawa semua orang larut,” ujar Siti, salah seorang warga yang ikut hadir malam itu sambil tersenyum.
Semarak Sulteng Nambaso malam itu seakan menemukan klimaksnya. Bukan semata karena acara resmi, melainkan karena kehangatan yang tulus dari para pemimpinnya, yang tak canggung berbagi momen kebersamaan dengan rakyat.
Ketika lagu berakhir, tepuk tangan membahana. Bukan hanya tepuk tangan biasa, tapi tepuk tangan yang membawa rasa bangga: inilah Sulteng hari ini, daerah yang besar, hangat, dan berani, dipimpin oleh sosok-sosok yang tidak hanya berbicara di podium, tetapi juga turun, bernyanyi, dan bersama-sama rakyatnya. (Rfi)
