BERANI Cerdas: Jalan Baru Pendidikan Sulawesi Tengah dari Hardiknas 2025
Hari Pendidikan Nasional 2025 bukan sekadar seremoni tahunan di Sulawesi Tengah. Di Lapangan Pogombo, Palu, Jumat pagi (2/5/2025), semboyan Ki Hajar Dewantara “Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” mengalun kuat saat Gubernur Dr. Anwar Hafid memimpin upacara Hardiknas. Namun lebih dari sekadar prosesi, peringatan kali ini menjadi panggung deklarasi tekad baru pemerintah provinsi: pendidikan harus menjadi hak, bukan beban.
Gagasan itu mengkristal dalam satu program besar yang telah menjadi denyut kebijakan Gubernur Anwar Hafid: BERANI Cerdas. Diluncurkan pada HUT ke-61 Sulawesi Tengah, program ini memberi akses pendidikan gratis bagi seluruh SMA, SMK, dan SLB, tanpa memandang status negeri atau swasta.
“BERANI Cerdas bukan sekadar slogan, ini gerakan nyata,” ucap Gubernur Anwar Hafid dalam pidatonya yang disambut tepuk tangan peserta upacara.
Semua kepala sekolah, kata Anwar, telah diminta menghentikan segala bentuk pungutan, termasuk biaya praktik kerja industri (Prakerin) dan uji kompetensi yang biasanya membebani siswa SMK. Kini, siswa hanya perlu membawa semangat, bukan uang.
Menjawab kekhawatiran soal nasib guru dan sekolah swasta, Anwar memastikan pendanaan telah disiapkan melalui skema BOS Daerah. Bahkan menurutnya, 90 persen sekolah swasta sudah ikut serta dalam program ini. Tidak hanya subsidi, tetapi juga penyetaraan dukungan dengan sekolah negeri.
Langkah ini diperkuat oleh peluncuran Beasiswa BERANI, sebuah upaya untuk menjembatani siswa dan mahasiswa Sulawesi Tengah agar bisa terus menapaki pendidikan tinggi. Saat ini, program itu telah mencatat 57.000 pendaftar, dari seluruh penjuru kabupaten dan kota.
“Saat ini kita sedang merancang payung hukum agar beasiswa ini tepat sasaran,” jelas Anwar Hafid.
Ia menerangkan bahwa penerima beasiswa akan difokuskan pada dua kelompok utama: keluarga tidak mampu dan siswa berprestasi.
Bagi mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu, cukup menyertakan surat keterangan dari kepala desa atau lurah. Sedangkan untuk siswa berprestasi, tidak ada batasan ekonomi. “Siapa pun berhak,” tambahnya. “Insya Allah, saya berharap semua bisa lolos.”
Gagasan pendidikan gratis ini tidak lahir dari ruang kosong. Di baliknya, ada efisiensi besar-besaran pada struktur APBD 2025. Pemerintah memotong anggaran perjalanan dinas, makan minum, hingga operasional pegawai. Anwar Hafid menyatakan, “Uangnya kita alihkan untuk menggratiskan pendidikan dan membantu biaya kuliah.”
Tak hanya di pendidikan, konsep BERANI juga merambah sektor kesehatan. Terhitung sejak 13 April 2025, seluruh warga Sulteng cukup menunjukkan KTP untuk mendapatkan layanan kesehatan, tanpa harus menunggu aktivasi BPJS.
“Sekarang tidak ada alasan masyarakat tidak bisa berobat,” tegas Gubernur.
Semangat gotong royong menjadi benang merah dari semua program ini. Di Hari Pendidikan Nasional ini, Provinsi Sulawesi Tengah mengirim pesan yang kuat: tak boleh ada lagi anak yang tertinggal karena biaya.
BERANI Cerdas, BERANI Sehat, dan efisiensi anggaran bukan sekadar program administratif, melainkan wajah dari tekad baru membangun Sulteng yang lebih setara, inklusif, dan manusiawi.***
