JAKARTA – Gempa berkekuatan 6,1 SR menggoyang Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat pada Jumat, 25 Februari 2022.

Data sementara menyebut, hingga Minggu, 27 Februari 2022, gempa itu menyebabkan 11 orang meninggal, 4 orang hilang, 42 orang mengalami luka berat, 346 orang luka ringan, dan 13 ribu orang mengungsi.

Lindu yang mengguncang Pasaman bukan untuk yang pertama kali. Pada 1977, daerah ini juga pernah diguncang gempa berkekuatan 5,5 SR. “Sumbernya dari segmen Sumpur atau Angkola,” kata pakar gempa Universitas Andalas (Unand) Padang Badrul Mustafa di Padang, Jumat, 25 Februari 2022.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Bambang Setiyo Prayitno menyebut, lindu yang terjadi Jumat lalu itu terletak pada koordinat 0,14° LU; 99,94° BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 12 kilometer Timur Laut wilayah Pasaman Barat, Sumatera Barat pada kedalaman 10 kilometer.

“Gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas Sesar Sumatera,” kata Bambang, Jumat, 25 Februari 2022.

Sumatera Barat memang masuk dalam daerah yang rawan digoyang lindu. Daerah ini dilalui oleh patahan geser Sesar Semangko. Sesar ini terdiri dari empat segmen. Yakni, segmen Sumpur yang merupakan lanjutan dari segmen Angkola dan Barumun; segmen Sianok; segmen Sumani dan segmen Suliti di Solok Selatan yang berhubungan dengan segmen Siulak di Kerinci.

Menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Dwikora, daerah ini memiliki sejarah lindu yang panjang. Beberapa di antaranya yakni:

  • 26 Agustus 1835
    Lokasi gempa berada di Padang. Tak ada dampak yang berat. Hanya kerusakan ringan dan retakan pada bangunan.
  • 5 Juli 1904
    Lokasi gempa di Silisori, Sumatera Barat. Gempa menyebabkan tsunami di pantai Silisori.
  • 28 Juni 1926
    Lokasi gempa berpusat di Padang Panjang, Sumatera Barat. Dampaknya lebih dari 345 orang meninggal dunia. Gempa juga menyebabkan bencana di sekitar Danau Singkarak, Danau Maninjau, Kabupaten Solok, Sawah Lunto, dan Arahan Panjang.
  • 4 Februari 1971
    Lokasi gempa di Sumatera Utara dengan magnitudo 6,3. Gempa berdampak pada kerusakan bangunan di Pasaman.
  • 8 Maret 1977
    Lokasi gempa di Pasaman. Gempa menyebabkan 737 rumah di Sinurat rusak.
  • 7 Oktober 1995
    Gempa berkekuatan 7 magnitudo. Gempa menyebabkan 84 orang meninggal, 558 orang luka berat, 1.310 luka ringan, dan 7.131 rumah rusak.
  • 16 Februari 2004
    Gempa di Tanah Datar dengan skala 5,6 magnitudo.
  • 22 Februari 2004
    Lokasi gempa di Pesisir Selatan dengan skala 6 magnitudo. Sejumlah orang dilaporkan meninggal dan mengalami luka-luka.
  • 6 Maret 2007
    Gempa berkekuatan 6,4 SR mengguncang Batu Sangkar. Gempa itu menelan 67 korban jiwa dan 826 orang mengalami luka. Sebanyak 43.719 bangunan di Bukittinggi, Padang Panjang, Payakumbuh dan Solok rusak.
  • 30 September 2009
    Gempa berskala 7,6 magnitudo terjadi di dekat Padang Pariaman. Sejumlah orang dilaporkan meninggal dan ribuan bangunan rusak.

Kerapnya lindu terjadi di daerah ini karena Sumatera Barat merupakan daerah yang dilalui sejumlah sesar. Mari kita mengenal sesar yang melalui daerah ini.

Mengutip bpbd.sumbarprov.go.id, potensi ancaman terbesar lindu di daerah ini bersumber dari Mentawai megathrust. Megathrust Mentawai ini di daerah subduksi pertemuan antara lempeng tektonik India-Australia dengan lempeng Eurasia. Ancaman lainnya bersumber dari Mentawai Fault System (MFS) dan Sumatera Fault System (SFS) atau lebih populer dengan istilah sesar Sumatera.

Sesar Sumatera ini yang disebut-sebut penyebab lindu yang terjadi pada Jumat pekan lalu itu. Lalu apa itu sesar Sumatera?

Sesar Sumatera ini berada di darat. Ia membentang dari provinsi Lampung sampai ke Aceh sepanjang ±1900 km. Sejumlah kabupaten di Sumatera Barat dilewati sesar ini. Seperti Solok Selatan, Solok, Tanah Datar, Kota Padang Panjang, Kota Bukit Tinggi dan Pasaman.

Sesar Sumatera terjadi akibat adanya lempeng India-Australia yang menabrak bagian barat pulau Sumatera secara miring. Akibatnya, terjadi tekanan dari pergerakan ini. Tekanan membentuk sesar Sumatera atau disebut juga ”The Great Sumatera Fault”.

Sesar ini membelah pulau Sumatera. Ia membentang mulai dari Lampung sampai Aceh dan nyambung hingga ke Laut Andaman hingga Burma. Patahan ini merupakan daerah rawan gempabumi dan tanah longsor.

Sesar Sumatera merupakan sesar strike slip berarah dekstral yang terdiri dari 20 segmen utama sepanjang tulang punggung Sumatera.

Jalur patahan Sumatera bisa dikenal dari penampakan bentang alam di sepanjang jalur. Bukit–bukit dan danau-danau yang ada di daerah itu menjadi penanda pernah terjadinya pergeseran itu.