Lecehkan Pasien, Perawat di Surabaya Dipecat
SURABAYA – Kasus pelecehan seksual kerap terjadi di negeri kita. Ini merupakan potret buram, mengerikan dan bejat yang sangat memalukan. Pelecehan seksual ini seringkali tak mengenal tempat. Di kantor, lingkungan rumah, jalanan maupun di tempat lain.
Kemarin, pihak Manejemen Rumah Sakit National Hospital, Surabaya, Jawa Timur memecat salah seorang perawatnya yang diduga melakukan pelecehan seksual pada seorang pasien. Manajemen juga meminta maaf atas peristiwa tersebut.
“Manajemen minta maaf dan mengambil tindakan tegas dengan memecat oknum perawat tersebut,” kata Kepala Perawat RS National Hospital Jenny Firsariana seperti dilansir dari CNN, Kamis (25/1) di Surabaya.
Jenny menegaskan manejemen RS Hospital Surabaya mempunyai standar yang tinggi untuk merawat pasien. Karena itu kejadian tersebut sangat tidak bisa ditoleransi dan tindakan tegas dilakukan meski perawat yang dipecat sudah bekerja selama puluhan tahun.
Untuk proses hukum yang saat ini berjalan, manajemen RS menyerahkan sepenuhnya pada kepolisian yang menangani kasusnya.
Kasus pelecehan tersebut diketahui dari video yang tersebar di media sosial. Dimana pasien perempuan yang jadi korban pelecehan menangis dan menuding salah seorang perawat pria sebagai pelakunya.
Pelecehan terjadi saat pasien tengah dalam pengaruh obat bius sebelum dioperasi, namun masih bisa merasakan adanya pelecehan yang dilakukan.
Perawat tersebut mengaku khilaf dan meminta maaf kepada pasien dan keluarganya.
Atas kejadian ini, pasien kemudian melaporkan ke Polrestabes Surabaya.
“Korban tadi melapor ke kami. Korban didampingi kuasa hukumnya,” kata Kepala Polrestabes Surabaya Komisaris Besar Polisi Rudi Setiawan.
Sebelum pasien melapor, penyidik sudah lebih dulu mendatangi rumah sakit untuk meminta keterangan pada pasien untuk memastikan ada dugaan tindak pidana.
BACA JUGA : Setelah Ejakulasi, Berapa Lama Harus Menunggu Sampai “Kuat” Lagi?
Sekedear diketahui, Menurut studi, 79 persen korban kekerasan dan pelecehan seksual akan mengalami trauma yang mendalam, selain itu stres yang dialami korban dapat menganggu fungsi dan perkembangan otaknya.
