Filosofi Bugis, Belajar Kepemimpinan dari Alat Vital Laki-Laki
MENJADI pemimpin yang baik dan sukses tentu harus mempunyai kapasitas yang memumpuni, juga mempunyai kualiatas dan pontensi yang tinggi.
Mempelajari kepemimpinan tidak hanya dari suatu organisasi atau pelatihan yang diadakan oleh isntasi tertentu. Dari filosofi yang dikemukaan oleh Prof. Idrus Shahab juga banyak inspirasi yang bisa kita dapatkan, walaupun aneh kita dengarkan Belajar Kepemimpinan Dari Alat Vital Laki – laki, namun mempunyai makna yang begitu mendalam dan bermaanfaat.
Filosofi adalah studi mengenai kebijaksanaan, dasar – dasar pengetahuan dan proses yang digunakan untuk mengembangkan dan merancang pandangan mengenai suatu kehidupan. Filosofi juga memberi pandangan dan menyatakan secara tidak langsung mengenai sistem kenyakinan dan kepercayaan.
Sebelum kita mempelajari kepemimpinan menurut Prof. Idrus Shahab yang dibahasakan dalam filosofi Bugis oleh Nawawi Skilat, terlebih dulu kita ketahui definisi kepemimpinan, apa itu kepemimpinan ?
Kepemimpinan dapat diartikan sebagai manifestasi dari pengaruh yang melekat pada jiwanya. Pengaruh tersebut ada yang dibentuk oleh persyaratan formal dan ada yang merupakan pembawaan jiwanya.
Prof. Idrus Shahab, pakar management Universitas Indonesia (jurusan psikologi anatomis) berkata “Jika ingin menjadi pemimpin yang baik & sukses, maka belajarlah dari Alat Vital Laki-laki” .
Pertama ” Tidak pernah menonjolkan diri, tapi selalu tampil paling depan saat dibutuhkan” (temmanessa paita, nakiya mariolo narekko yappareluang).
Kedua “Ada saatnya keras, ada pula saatnya lembut (menahan diri – tahu situasi)” (engka wettu na matojo na ma lemma, naisseng elana).
Ketiga “Dapat melahirkan generasi penerus baru” (abbijangeng).
Keempat “Bisa “menyerang” pihak lawan dengan tetap memberi kenyamanan” (paewa, nakiyya tette mappenyameng).
Kelima “Walau terjadi gesekan2 antara kedua belah pihak, namun pada akhirnya semua bahagia” (namau sikenna, nakiya pada mappinyameng).
Keenam “Setelah sukses mencapai target, posisi dan kedudukan tidak berbesar kepala atau sombong, Namun selalu mengecilkan diri” (temmaloppo ulu narekko pura mappugau).
Dari penjelsan singkat tersebut dapat disimpulkan bahwa yang awalnya dianggap jorok ternyata bermanfaat. Filosofih Kepemimpinan bisa kita pelajari dari anggota tubuh kita sendiri.
