oleh

Wujudkan Agroforestry, Desa Pulu Bentuk KTH Uvempane

SIGI – Kelompok Tani Hutan (KTH) Uvempane Desa Pulu Kecamatan Dolo Selatan Kabupaten Sigi, dibentuk pada hari Minggu, 10 Oktober 2021.

Pertemuan kampung yang difasilitasi oleh Yayasan Ekologi Nusantara Lestari (EKONESIA) atas dukungan dari Yayasan Sheep Indonesia (YSI), yang dihadiri oleh masyarakat dan pemerintah desa setempat, menyepakati pembentukan Kelompok Tani Hutan (KTH). Dengan nama KTH Uvempane.

Kata Uvempane yang bermakna air panas dalam bahasa Kaili, mengacu kepada keberadaan sumber air panas yang ada di Desa Pulu. Masyarakat setempat menyebut air panas yang melimpah itu dengan nama Kaliali. Artinya air panas yang berdimensi maskulin dan juga feminim.

Pembentukan KTH itu dimaksudkan untuk kehadiran kelembagaan lokal yang akan mengawal kegiatan-kegiatan wanatani (agroforestry) di level tapak. Kepala Desa Pulu Salman, gembiran dan senang dengan terbentuknya KTH Uvempane.

“Kita beeharap kelompok KTH ini akan menjadi penggerak kegiatan wanatani di Desa Pulu”, ujarnya.

Sebelumnya, pada kunjungan pihak Balai Pengelolaan Hutan Produksi (BPHP) Wilayah XII Palu beberapa waktu lalu, pihak Balai telah menyarankan agar Desa Pulu mencanangkan program wanatani atau agroforestry. Mempertimbangkan bahwa wilayah ini memiliki potensi lanskap yang luar biasa. Selain itu, kehadiran sumber air panas Kaliali dapat dijadikan ikon agroforestry Desa Pulu.

Sementara itu, Direktur EKONESIA Azmi Sirajuddin, mendukung kehadiran KTH Uvempane. “KTH di level tapak dapat memainkan peranan yang sentral dalam aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, karena itu kelembagaan lokal seperti itu patut didukung dan diperkuat kapasitasnya sebagai penggerak kesadaran bencana iklim”, ungkap lelaki yang aktab disapa Daeng Mamase.

Pihak EKONESIA degan dukungan Yayasan Sheep Indonesia (YSI) akan memperkuat kapasitas KTH Uvempone. Melalui beragam aktivitas di lapangan. Pendamping masyarakat dari EKONESIA Suwandi dan Taslim Pakaya menyatakan kesiapan mereka melakukan pendampingan. “Kami sifatnya hanyalah fasilitator, partisipasi dan keaktifan masyarakat yang menjadi kunci”, pungkas keduanya.

Komentar

Masih Hangat