oleh

PMII Tolitoli Gelar Diskusi Interaktif

TOLITOLI – PMII Tolitoli Gelar Diskusi interaktif dengan Tema “UU Cipta Kerja (Omnibuslaw) Fakta Atau Hoax”. di Aula Kampus STAI Al-Munawwarah Tambun, kecamatan Baolan, kabupaten Tolitoli.

“RUU omnibus law sudah tentu fakta karena UU nya memang ada, Yang menjadi pertanyaan fakta atau hoax bukan UU omnibus law melainkan beberapa poin yang ada di dalamnya.
UU omnibus law adalah UU yang bisa jadi mengelabui rakyat karena terdapat point point yang di dalamnya bisa dibilang diskriminatif terhadap rakyat, karena point point tersebut lebih menguntungkan para elit politik dan pengusaha.”, ujar Usman Ali Selaku Narasumber, Sabtu, (24/10/2020).

Usman Ali, SH mengatakan bahwa pembahasan RUU Cipta Kerja berubah-ubah yang membuat Publik merasa kebingungan sehingga Terprovokasi dengan Isu isu Hoax yang dihembuskan.

“UU omnibus law memiliki rancangan/draf yang berubah-ubah dimana yang pada pembahasan awalnya berjumlah 900 halaman kemudian pada pembahasan lanjutan bertambah hingga kurang lebih 1000 halaman. Nah inilah yang menjadi Celah bagi Para penyebar Hoax untuk melakukan Propaganda Dimedia media Publik.”, ujarnya.

Risal (Mahasiswa STAI Al Munawwarah) berpendapat bahwa banyak Hal yang telah dipelintir dalam penjabaran poin poin UU Cipta Kerja yang beredar.

“Dalam konteks pembahasan UU Cipta Kerja (Omnibuslaw) banyak hal yang menjadi Problematika seperti jenis RUU yang banyak beredar dan juga Banyak Poin-poin yang dipelintir sebagai isu menyesatkan masyarakat” ungkapnya.

Fajrul (mahasiswa Universitas Madako) Menyampaikan bahwa sebelum Penetapan RUU Cipta kerja telah terjadi penolakan dikalangan Buruh dan mahasiswa seharusnya ini menjadi acuan untuk menunda Penetapan UU Cipta kerja.

“‌Sebelum ditetapkankannya RUU Cipta Kerja telah terjadi banyak penolakan di masyarakat seharusnya hal ini menjadi acuan pemerintah dalam menunda Penetapan UU Cipta Kerja, nah tentunya ini tidak luput dari keterlibatan elit politik yang memiliki kepentingan”, jelasnya.

BACA JUGA  PB PMII Galang Aksi Nasional untuk Korban Gempa NTB

Alfiansa (mahasiswa STIP Mujahidin Tolitoli) menyampaikan bahwa Diskusi ini harus sering dilakukan dilingkungan Kampus Agar Pisau analisis para mahasiswa tetap terjaga.

“Sebagai insan akademis mahasiswa seharusnya lebih mampu menganalisis sebuah isu agar tidak menyesatkan dan juga dalam menyampaikan aspirasi kajiannya harus tuntas, Seharusnya Agenda Agenda seperti ini bisa dilakukan ditiap-tiap kampus sebagai langkah kongkrit mahasiswa yang merupakan agen perubahan”, ujarnya.

Diskusi ini bertujuan agar masyarakat khususnya mahasiswa Kabupaten Tolitoli tidak mudah terprovokasi dengan isu-isu hoax yang sangat menyesatkan. [Red]

Komentar

Masih Hangat