Cerita Aisiah Bocah Pemberani yang Selamat dari Terjangan Tsunami

PALU, Infopena.com – Rejeki, jodoh dan ajal semua atas kehendak Allah SWT, Siti Aisiah, putri pertama Dari Hamzah dan almarhumah Hadijah (korban tsunami) bocah pemberani ini bisa melawan dasyatnya terjangan tsunami yang terjadi di Kota Palu pada Jumat, 29 September 2018 pekan lalu.

“Saat itu saya terpisah dari umiku dan adiku Hafiz. Umiku berjualan pakaian di Palu Nomoni. Saat gempa saya terlempar sampai di jalan raya depan TVRI Saya berdiri dan mencari adiku Hafiz tapi tsunami datang, ” ungkap Siti Aisiah dengan mata berkaca-kaca.

Menurutnya, dirinya sempat tenggelam tapi saya menahan napas supaya tidak tenggelam.

“Saya tenggelam tapi saya ingat pesan Kakak ku cinta kalau tenggelam saya harus tahan napas, saya terapung tapi kadang kalau saya capek air laut terminum, ” bebernya.

Tsunami pertama sudah lewat Aisiah sadar Dia kehilangan sendal, dia takut dimarah uminya makanya dia berusaha mencari sendalnya, belum berapa lama tsunami kedua datang lagi.

“Tangan saya di pegang bapak – bapak, sambil berteriak ayo lari nak, rasa takut, tapi saya tetap berlari-lari, saya terjatuh, saya ingat umiku dan adiku hafiz bagaimana sudah keadaannya,” sambil terisak menangis.

Tatapan mata Aisiah yang berkaca-kaca terlihat begitu shock dan terluka, sekali – kali dia menarik bajunya dan melap air matanya.

Aisiah melanjutkn kisahnya, tsunami kedua dia berlari sekencang-kencangnya kearah lorong rumah sakit Undata lama.

“Sempat saya jatuh karena kena hantaman tsunami, tapi saya tetap lari, saya lihat ada batu besar di bengkel tua, saya panjat lalu saya bapegang kuat di besi, batu itu bagoyang seperti saya mau jatuh saya lihat air datang, saya menangis, saya takut, “ungkapnya.

Tapi tiba-tiba ada bapak-bapak yang ikut berlindung dekatnya. Dia menarik tanganku lari ke jalan Hayam wuruk, kami selamat tapi Aisiah pingsan dan di bawah kerumah sang penolong itu.

Tiga hari pasca tsunami Siti Aisiah siswa SD IT Persit jln Ojo Mojolo Kelurahan Nunu, Kecamatan Tatanga itu diantar kerumah keluarga, ini mujizat dari Allah SWT keluarga terkejut dan merasa bersyukur karena Siti Aisiah masih diberikan umur panjang, dia kembali berkumpul bersama keluarga, walaupun sampai saat ini jasad ibunya Hadijah dan adik laki-lakinya Hafiz belum didapat.

Setiap mengingat peristiwa itu Aisiah menangis, Dia sangat merindukan Umi dan adiknya….Umi… Hafiz kamu dimana Aisiah Rindu.. Rindu sekali.

Tsunami  7,4 SR yang trjadi di kota palu menyimpan goresan luka yang teramat dalam, biarlah jadi sejarah untuk dikenang, Kami tidak boleh lemah, tetap semangat dan bangkit. (Irma Carolina)

Komentar