oleh

YSTC Ajak Media Dukung Bayi Peroleh ASI di Situasi Darurat

Bagikan Artikel Ini

PALU – Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) atau Save The Children mengajak media untuk mendukung gerakan menyusui atau pemenuhan hak anak dan bayi memperoleh ASI eksklusif dalam situasi darurat bencana dan pascabencana.

Manager Komunikasi dan Advokasi YSTC/Save The Children, Dewi Sri Sumanah, saat kegiatan workshop peningkatan kapasitas awak media/pers, di Palu, Selasa (06/08) mengatakan, terdapat tiga wilayah intervensi YSTC tahun 2018-2020, meliputi Kota Palu, terdiri dari delapan kecamatan 39 kelurahan. Kemudian, Kabupaten Donggala terdapat sembilan kecamatan 61 desa, dan Kabupaten Sigi 10 kecamatan 60 desa intervensi YSTC.

Di satu kota dan dua kabupaten tersebut, YSTC menggencarkan tujuh program kemanusiaan yaitu pendidikan dan upaya pengurangan risiko bencana berbasis sekolah. Perlindungan anak dan pelacakan keluarga serta reunifikasi, distribusi bantuan non-pangan, shelter dan infrastruktur, air sanitasi dan kebersihan, kesehatan dan nutrisi, ketahanan pangan dan kesejahteraan.

Selama melakukan intervensi, terdapat 189.466 orang dan 90.379 anak penerima manfaat intervensi program dari YSTC. Hampir setahun pascabencana gempa, tsunami dan likuefaksi, YSTC membangun 108 ruang belajar sementara (TLS) telah didirikan di 50 lokasi tersebar di Palu, Sigi, dan Donggala, dan 5.306 anak telah terdaftar dan menghadiri TLS yang telah didirikan.

“Pada aspek pendidikan, selain yang itu ada pula 36 guru dan kepala sekolah serta 27 Guru PAUD mengikuti pelatihan pendidikan dalam situasi darurat. 75 peserta mengikuti pelatihan pengurangan risiko bencana (guru, kepala sekolah, pengawas, BPBD dan masyarakat). 7.410 perlengkapan kembali ke sekolah telah diterima oleh anak-anak,” ujar dia.

Kegiatan bertema “Peran Media dalam Melindungi, Mempromosikan dan Mendukung Menyusui” itu melibatkan 15 media nasional sekaligus kontributor dan media lokal, yang diharapkan dapat menyampaikan kepada masyarakat tentang pentingnya ASI eksklusif atau pemenuhan gizi bayi dan anak dalam situasi bencana maupun non-bencana.

BACA JUGA  Bulog Salurkan Beasiswa Pendidikan ke 15 Mahasiswa IAIN Palu

YSTC sendiri melibatkan dua narasumber, yakni Dokter Wiyarni Pambudi dari Satgas ASI IDAI, dan Rahmat Hidayat dari Ayah ASI.

Sementara dr. Wiyarni Pambudi, mengatakan, pemberian susu formula bayi dan produk bayi lainnya pada situasi darurat, harus melalui dinas kesehatan setempat dan dilaksanakan sesuai pedoman pemberian makanan bayi dan anak pada situasi darurat yang ditetapkan Menteri Kesehatan.

Menurutnya, saat bencana perlu penyediaan ruang yang nyaman untuk menyusui.

“ASI harus selalu tersedia dan siap diberikan tanpa menunggu datangnya bantuan,” katanya.

Ia menambahkan, situasi saat bencana tidak kondusif dan menggangu pemberian ASI. Sebab kata dia, belum ada upaya pendirian tenda laktasi, tenaga kesehatan dengan kompetensi menyusui, tindakan tegas untuk menyikapi donasi formula bayi yang masif dan dibagikan tanpa sepengetahuan Dinas Kesehatan setempat.

Salah satu pendiri Ayah Asih Indonesia, Rahmat Hidayat, mengatakan, dari kecil, laki-laki tidak dibesarkan untuk menjadi seorang ayah, tapi lebih disiapkan menjadi seorang suami yang harus bekerja keras menafkahi keluarganya.

“Sehingga kita gagap parenting dan merasa bukan tugasnya. Padahal laki-laki bukan tidak peduli, melainkan tidak sadar bahwa mereka seharusnya peduli,” ujarnya.

Namun perlu dipahami, kata dia, laki-laki egonya tinggi, cenderung tidak mau diajari. “Jadi biarkan mereka menikmati dan menemukan caranya sendiri ketika harus membantu istri di rumah,” tutupnya. (IKRAM)

loading...

Bagikan Artikel Ini
  • 20
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Berita Terbaru