oleh

Usaha Kopi Jadi Peluang Bisnis Cemerlang di Kala Ekonomi Lesu

Bagikan Artikel Ini

JAKARTA — Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai usaha ‘kopi kekinian’ bisa menjadi peluang bisnis cemerlang di tengah perlambatan ekonomi. Sebab, konsumsi masyarakat menopang separuh lebih pertumbuhan ekonomi nasional.

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menilai perlambatan ekonomi global mau tidak mau membuat Indonesia harus mencari sumber pertumbuhan sendiri dari dalam negeri. Beruntungnya, ekonomi Tanah Air ditopang oleh konsumsi masyarakat dengan populasi mencapai 260 juta jiwa.

Artinya, kebutuhan makanan dan minuman (mamin) menjadi jenis usaha yang tetap memiliki peluang untuk tumbuh. Mulai dari bisnis skala korporasi hingga Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Industri makanan dan minuman walau ada perlambatan ekonomi dan industri, tetap bisa tumbuh baik,” ucap Bhima, Jumat (6/12), seperti dilansir dari CNN Indonesia.

Menurut Bhima, masyarakat Indonesia punya budaya ingin mencoba dan mengikuti tren yang cukup tinggi. Tak ayal, bisnis ‘kopi kekinian’ dan jajanan bisa tumbuh subur.

“UMKM memiliki jumlah konsumen yang tinggi, belum lagi ada 92 juta milenial yang membeli makanan dan minuman meski ada tekanan ekonomi. Bisa dilihat outlet Kopi Janji Jiwa itu sudah banyak, Kopi Kenangan dan lainnya juga, ini juga didukung aplikasi digital pesan antar,” ujarnya.

Selain yang berskala kecil, menurutnya, bisnis skala besar seperti restoran pun tidak kalah prospektif. Namun, usaha ini menghadapi tantangan untuk terus menyajikan inovasi menu.

Selanjutnya, sektor lain yang juga berpeluang menorehkan pertumbuhan dan memberi sumbangan ke ekonomi dalam negeri adalah perdagangan elektronik (e-commerce), pergudangan, dan logistik. Peluang ini muncul tak lepas dari meningkatnya minat masyarakat untuk belanja online.

“Saat ini 40 persen dari e-commerce berada di platform resmi, seperti Lazada, Tokopedia, dan lainnya. Sisanya, 60 persen berdagang di sosial media,” katanya.

Tak ketinggalan, sektor usaha yang juga bisa menoreh kesempatan saat pertumbuhan ekonomi global melambat adalah industri tekstil dan produk tekstil. Kesempatan ini muncul sebagai imbas dari perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Sebagai catatan, perang dagang membuat permintaan tekstil dan produk tekstil dari AS meningkat karena tidak bisa dipenuhi oleh China. Maka, AS mencari sumber lain, salah satunya bisa dari Indonesia.

“Data yang menarik ditunjukkan oleh tekstil dan produk tekstil, UMKM dapat limpahan produksi. Yang semula dipenuhi oleh Jawa Barat, kini menyebar ke Jawa Tengah dan Jawa Timur,” jelasnya.

Sedangkan sektor usaha yang patut diwaspadai ketika perlambatan terus terjadi adalah bisnis yang berbasis komoditas. Maklum saja, perang dagang AS-China terus memberi dampak pada pergerakan harga komoditas di pasar internasional.

“Outlook-nya sama seperti 2019, yang berkaitan dengan komoditas karena ada supply and demand, dari level petani sampai korporasi harus hati-hati. Apalagi kalau Trump terpilih lagi,” katanya.

Menopang Pertumbuhan Ekonomi

Sementara dari kacamata perbankan, Direktur Utama Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja menilai sektor UMKM memang cukup bisa diandalkan dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Ini tercermin dari kinerja pertumbuhan kredit yang mengalir ke sektor tersebut.

“Kami perkirakan untuk 2020, pertumbuhan kredit ke UMKM bisa double digit, sementara korporasi single digit,” tutur Parwati.

Berdasarkan data kinerja bisnis OCBC NISP, penyaluran kredit ke sektor UMKM mencapai 57 persen dari total kredit yang diberikan pada kuartal III 2019. Sementara korporasi hanya sekitar 32 persen dan konsumen 11 persen.

Sayangnya, ia enggan mengungkap berapa total penyaluran kredit ke sektor UMKM dan bidang apa saja yang memiliki permintaan kredit yang tinggi. Namun, ia menyatakan pertumbuhan kredit ke UMKM pasti akan meningkat pada tahun depan [***]

Loading...
loading...

Bagikan Artikel Ini
  • 50
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar