oleh

Tersangka Proyek Jembatan Torate Donggala Dijebloskan ke Bui

Bagikan Artikel Ini

PALU – Empat tersangka dugaan korupsi sejumlah proyek jembatan di Kabupaten Donggala ditahan oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulteng, Kamis (03/10), dan langsung dijebloskan ke penjara.

Mereka adalah perempuan bernama Serly (Kuasa Direktur PT. Mitra Aiyangga Nusantara), Moh. Masnur (Direktur PT. Mitra Aiyangga Nusantara), Ngo Joni (Konsultan Pengawas), dan Alirman (Pejabat Pembuat Komitmen).

Usai dilakukan pemeriksaan kesehatan dan penyelesaian administrasi, keempatnya langsung digiring menuju mobil tahanan. Untuk tersangka Moh. Masnur, Ngo Joni dan Alirman dibawa ke Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas II Palu, sementara Serly dibawa ke Lapas Perempuan Klas III Palu.

Keempatnya diduga melakukan korupsi empat proyek jembatan sekaligus yang dibangun di jalur nasional ruas Tompe-Surumana, yakni Jembatan Torate dan Karumba, Jembatan Laiba, Jembatan Labuan.

Dari keempat proyek tersebut, dugaan korupsi terbesar adalah pembangunan Jembatan Torate dengan kerugian negara sebesar Rp2,8 miliar.

Untuk itu, keempatnya disangkakan adalah Pasal 2 Ayat 1 Jo Pasal 18, subsider Pasal 3 Jo pasal 18 Undang-Undang Nomor: 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

“Penahanan dilakukan karena alasan sunjektif dan objektif sebagaimana dalam pasal 21 ayat (1) KUHAP,” Kepala Kejati Sulteng melalui Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus), Edward Malau, didampingi Asintel, Darmukti dan Kasi Penmas, Zaenuddin.

loading...

Ia mengatakan, penahanan tersebut akan berlangsung selama 20 hari, mulai Kamis (03/10) sampai Selasa (22/10).

Dia menuturkan, kasus ini berawal ketika Dinas Bina Marga dan Tata Ruang Wilayah Sulawesi Tengah melaksanakan pekerjaan penggantian Jembatan Torate dengan Pagu anggaran senilai Rp18 miliar bersumber dari APBN Tahun 2018.

BACA JUGA  Satu Tersangka Proyek Jembatan Torate Donggala Minta Penangguhan Penanahan

Kata dia, pemenang lelang untuk pekerjaan Jembatan Tornate adalah PT Mitra Aiyangga Nusantara dengan nilai kontrak sebesar Rp14,9 miliar dengan masa kerja selama 210 hari (mulai 4 April 2018 sampai 5 November 2018.

“Proyek ini lalu dikerjakan oleh Serly selaku Kuasa PT Mitra Aiyangga Nusantara. Namun, pekerjaan tersebut terhenti. Kemudian Moh. Masnur melanjutkan progress yang ada. Tapi sampai kontrak berakhir tanggal 5 November, pekerjaan tidak selesai karena tidak dilaksanakan sesuai jadwal,” tuturnya.

Kemudian, kata dia, pada tanggal 21 Desember 2019, dibuatlah berita acara pemeriksaan yang di tandatangani, Alirman selaku PPK dan Ngo Joni selaku konsultan pengawas yang merekayasa pekerjaan tersebut telah mencapai 28,5 persen.

“Padahal kenyataannya tidak sesuai kondisi di lapangan sehingga negara mengalami kerugian untuk proyek jembatan Torate sebesar Rp2,8 miliar,” katanya.

Lanjut dia, kemungkinan akan ada tersangka baru dalam kasus ini karena pihaknya sedang melakukan pendalaman. (MAL)

Loading...

Bagikan Artikel Ini
  • 21
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar