oleh

Rupiah Makin Perkasa

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menguat. Di penghujung Januari 2019, mata uang Garuda berhasil menyentuh Rp13.900 per dolar AS.

Pada perdagangan sore ini, Kamis 31 Januari 2019, rupiah diperdagangkan di posisi Rp13.973 atau menguat 1,11 persen dibanding pembukaan perdagangan pagi tadi ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia hari ini, rupiah berakhir dan dibanderol Rp14.072 per dolar AS. Menguat dari perdagangan kemarin, yang tercatat Rp14.112 per dolar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, Nanang Hendarsah menjelaskan, penguatan tajam rupiah tersebut, ditopang oleh pelepasan valuta asing atau valas oleh investor asing dan perbankan akibat pernyataan Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) yang memastikan tidak akan mengubah kebijakan suku bunga acuannya.

Kebijakan itu diumumkan The Fed pada Rabu waktu setempat, usai menggelar rapat kebijakan awal tahun yang digelar pekan ini. Suku bunga acuan AS tetap di kisaran 2,25 persen hingga 2,5 persen, dengan pertimbangkan perkembangan ekonomi dan keuangan global yang melambat di tahun ini.

“Dengan perubahan stance kebijakan moneter The Fed ke depan, telah memicu penurunan yield US Treasury Bond 10 tahun ke 2,5 persen, sehingga perlebaran spread imbal hasil yieldSBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun menjadi 560 basis poin. Selisih imbal hasil SBN dan US Treasury Bond ini semakin menarik arus modal asing ke pasar SBN,” katanya kepada VIVA, Kamis 31 Januari 2019.

Nanang mengungkapkan, akibat itu, arus modal asing yang masuk ke pasar SBN saat ini mencapai Rp3,65 triliun. Secara total, Januari 2019, arus dana asing ke SBN dan saham mencapai sekitar Rp24 triliun, yang kemudian mendorong nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penguatan.

BACA JUGA  Kapal KM Fungka Permata Terbakar, Tim SAR Temukan Lagi Lima Korban

“Bank Indonesia tetap akan membiarkan rupiah berlanjut menguat di bawah level Rp14 ribu, karena rupiah masih undervalued, sekaligus untuk memperkuat confidence terhadap Indonesia,” ungkapnya.

Senada, Kepala Riset Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih mengakui, memang arah kebijakan suku bunga acuan The Fed yang sedikit melunak atau dovish itu membuat mata uang rupiah menguat.

Namun, ditegaskannya, penguatan nilai tukar mata uang tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga terjadi di negara-negara emerging market lainnya, khususnya di Asia.

Itu, tambah Lana, dapat dibuktikan dari tidak adanya kondisi apapun di dalam negeri yang membantu penguatan rupiah. Bahkan, dikatakannya, akibat masalah struktural ekonomi Indonesia yang belum juga diselesaikan oleh pemerintah, penguatan rupiah akan bergerak terbatas di kisaran lebarnya, yakni Rp13.800 sampai Rp14.300 per dolar AS.

“Penguatannya terbatas, karena kita punya masalah struktural kalau rupiahnya terlalu menguat impornya jadi naik. Kalau impor naik, sementara ekspornya belum betul-betul bisa naik, ya kita jadi defisit di neraca perdagangan, nah itu yang mungkin penguatannya berlaku terbatas,” tegas dia. (Viva)

loading...

Komentar