oleh

Rindu Yunisa, Melihat Indahnya Dunia

Bagikan Artikel Ini

PALU – Gadia belia usia delapan tahun itu nampak terbaring lemah di bangsal Rumah Sakit Anutapura, pekan lalu. Di bagian tangan kanannya, nampak jarum infus yang menancap.

Yunisa Elmira nama gadis kecil itu. Sejak Jumat (05/07) malam lalu, ia terpaksa dibawa oleh kedua orangtuanya karena mengalami panas yang tak kunjung hilang.

Dari hasil pemeriksaan laboratorium oleh dokter yang menanganinya, Yunisa mengalami saluran infeksi pernapasan dan ada bakteri yang menyumbat di tenggorokannya.

Menurut Dewi, ibu Yunisa, ketika panas, anaknya diberi obat paracetamol dan panasnya sempat turun, tapi tidak lama panas kembali. Karena khawatir dengan kondisi anak keduanya itu, maka orang tuanya pun membawa Yunisa untuk ditangani lebih serius di rumah sakit.

Tapi bukan panas badan Yunisa yang membuat trenyuh hati karena setidaknya, dia sudah mendapatkan penanganan yang serius oleh dokter.

Ternyata anak kedua dari kedua pasangan Syamsul (33) dan Dewi Santiana (25) itu, mengalami cacat sejak lahir.

Yunisa tidak seperti layaknya anak-anak sebayanya yang dapat melihat. Sejak lahir, Yunisa bahkan belum pernah melihat wajah kedua orang tua yang selalu merawatnya itu.

Lensa matanya berwarna keruh dan tampak seperti ada noda keabu-abuan atau yang dalam istilah kedokteran disebut katarak kongenital.

Dewi -sang ibu- terkadang merasa sedih, melihat anak gadisnya yang masih memiliki masa depan yang panjang, harus mengalami kondisi yang sama seperti dirinya. Mirisnya, Dewi pun mengalami hal yang sama dengan anaknya, buta sejak lahir.

Bukan tanpa alasan, apa yang diungkapkan Dewi juga berdasarkan pengalaman-pengalaman yang dilaluinya selama menjalani hari-hari yang gelap. Bagaimana ia dihina, dicaci serta dijauhi orang dari pergaulan.

BACA JUGA  Warga Tolak Areal Bekas Likuifaksi Dijadikan Lintasan Off Road

Namun Dewi sendiri masih sedikit beruntung karena masih bisa sedikit melihat. “Tapi dia (anaknya) sama sekali tidak bias melihat apa-apa,” katanya.

Ada keinginan mau mengobati Yunisa agar tidak dijauhi orang dan bisa melihat dan menjalani hidup normal seperti anak lainnya.

Hanya saja, keinginan itu masih terkendala, khususunya dengan kesiapan mental Yunisa sendiri. Sebab, kata Dewi, peluang untuk bisa melihat hanya sekitar 30-40 persen saja. Namun di balik semua itu, dana adalah masalah utama guna membiayai transpalasi lensa mata.

“Tapi tetap terus berusaha menabung, semoga suatu saat sudah siap mau mencoba. Jadi masih harus dipikirkan matang-matang. Yang membuat kuat itu, teman-teman sekeliling,” tuturnya.

Sebelum kejadian bencana alam tanggal 28 September 2018 lalu, tutur dia, Yunisa pernah bisa melihat bayangan. Pada saat itu, dia sedang berada di rumah singgah komunitas anak penyandang tuna netra yang dirintisnya, bersama dengan anak-anak penyandang tuna netra lainnya.

“Waktu gempa semua panik dan lari berhamburan. Karena mereka semua tidak melihat, akhirnya menabrak Yunisa, dan kepalanya kejedot hingga menyebabkan penglihatannya tidak berfungsi sama sekali. Semoga dengan kejadian ini, ada hikmah yang bisa dipetik,” tutupnya. (IKM)

loading...

Bagikan Artikel Ini
  • 47
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Berita Terbaru