oleh

Polisi Ringkus Pelaku Bom Ikan di Perairan Parimo

Bagikan Artikel Ini

PALU – Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Sulteng, berhasil meringkus tujuh pelaku destruktif fishing di wilayah perairan Parigi-Moutong. Lima di antaranya merupakan warga asal Provinsi Gorontalo, tepatnya warga di Desa Torsiaji Laut, Kecamatan Popayato.

Kelimanya masing-masing adalah IT alias Papa Moni (32), S alias Lidam Borman (43), IN alias Papa Assila (27), dan Dn dan YT (21).

“Kelima orang terduga pelaku tersebut ditangkap di perairan/Reep Maloang, tujuh mil laut dari Desa Sibatang Kecamatan Taopa Kabupaten Parimo Sabtu (12/10) lalu,” ujar  Direktur Polairud Polda Sulteng, Kombes Pol Indra Rathana, di Mako Airud Polda Sulteng, Desa Wani, Donggala, Rabu (16/10).

Indra menjelaskan, pihaknya sudah mulai bergerak sehari sebelumnya karena diketahui pelaku melakukan kegiatan pada waktu sore hingga malam hari, bahkan sampai pagi hari.

Hingga penangkapan berlangsung, Sabtu pagi, dari jarak 200 meter aparat sudah melihat perahu batang yang diduga sedang melakukan destruktif fishing (pemboman ikan).

Kecurigaan aparat menguat, ditandai dengan bunyi gemuruh serta percikan air ke udara dan disusul bunyi bom dua kali, juga disertai dengan dua pelaku turun menyelam ke laut.

Hingga sedekat mungkin, petugas langsung memberikan tembakan peringatan ke udara agar para pelaku turun dari kapalnya.

Ia menyebutkan, dalam penangkapan tersebut pihaknya berhasil mengamankan sejumlah barang bukti, berupa satu unit perahu batang (bodi) 13 meter, satu mesin Yamaha 40 Pk, satu unit kompressor, dua selang menyelam dengan panjang 60 meter, tiga buah dakor, tiga buah sepatu katak dan 3 buah kacamata selam.

Selanjutnya dua buah sibu-sibu pengumpul ikan, empat kotak gabus ikan, satu buah aki motor 12 fuul, kabel kembar hitam merah panjang 50 meter, dan patahan-patahan anti nyamuk.

Sebelumnya, Kamis (10/10) di wilayah perairan Kabupaten Banggai, Ditpolairud Polda Sulteng juga berhasil membekuk dua nelayan, yang merupakan pelaku bom ikan.

loading...

Dua pelaku yang masing-masingnya adalah MT alias Kubi dan RL alias Dengki, diamankan berdasarkan laporan Polisi Nomor :LP / 303 / X / 2019 / Ditpolairud, tanggal 10 Oktober 2019.

Keduanya ditangkap akibat melakukan penangkapan ikan menggunakan bahan kimia, bahan biologis (potasium) dan alat bantu yang dilarang.

“Kasus dua pelaku ini sudah tahap II, sementara yang lima itu masih kita lakukan pengembangan. Pada dua pelaku itu kita berhasil mengamankan satu unit perahu tanpa nama, dua unit mesin ketinting, tujuh buah jaring pengumpul ikan, dan dua roll selang,” ungkap Kombes Indra.

Kini tujuh tersangka tersebut dikenakan Pasal 84 ayat (1) dan/atau Pasal 100 B jo Pasal 8 ayat (1) UU RI Nomor: 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UU RI Nomor: 31 Tahun 2004 tentang Perikanan

Sejauh ini, menurut dia, khusus pada warga Sulteng, banyak yang mulai sadar akan pentingnya biota laut, seperti terumbu karang. Terbukti, pada hasil penggerebekan tersebut, lima diantaranya warga dari provinsi tetangga.

Meski begitu, Indra tak menampik jika kerusakan terumbu karang yang ada di perairan Sulteng akibat dari bom ikan maupun bius yang dilakukan para oknum-oknum tersebut, sudah sampai pada level parah.

“Dan kita tidak memetakan daerah-daerah mana yang rawan, namun para pelaku ini melakukan aksinya di mana ada terumbu karang maka di situ mereka beraksi, karena di sekitar karang itu pasti banyak ikan dan bukan hanya ikan untuk dikonsumsi saja mereka ambil namun juga ikan hias untuk diperjualbelikan hingga keluar daerah,” jelasnya.

Ia mengimbau kepada masyarakat agar pandai dalam memilih ikan untuk dikonsumsi sehari-hari, sebab bukan tidak mungkin ikan yang ditangkap dengan cara bius maupun bom pasti mempunyai dampak bagi yang memakannya. (FLD)

Loading...

Bagikan Artikel Ini
  • 106
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar