oleh

Polisi Amankan Pembacok Bocah SD di Sigi, Pengakuan Tersangka Mengejutkan

Bagikan Artikel Ini

SIGI – Onis (25), tersangka pembacok Bocah yang masih duduk di Bangku Sekolah Dasar (SD) berinisial Mg (11) di Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi kini mendekam di tahanan Mako Polres Sigi.

Onis sempat melarikan diri dan bersembunyi setelah membacok korbannya Mg tepatnya di Desa Rejeki, Rabu (13/02/2019) sekitar pukul 10.30 Wita.

Polisi bersama masyarakat kemudian melakukan pencarian terhadap tersangka di pegunungan dan kebun-kebun warga di desa Rejeki selama tiga hari.

Karena tidak membuahkan hasil, upaya lain pun dilakukan. Polres Sigi melakukan upaya persuasif kepada orang tua tersangka di Desa Lewara, Marawola Barat.

Alhasil, upaya persuasif pihak Polres Sigi pun direspon baik pihak keluarga Onis, hingga akhirnya tersangka di serahkan keluarganya ke penyidik pada Rabu 20 Februari 2019.

Dari pengakuan tersangka kepada polisi, pembacokan tersebut dilakukan karena tersingung pada sikap kasar keluarga korban yang seolah tidak menghargai dirinya.

Selain itu, tersangka juga akui cemburu karena korban mulai dekat dengan laki-laki lain. Menurutnya, ia dan korban telah pacaran bahkan pernah berhubungan badan dengan korban sebanyak tiga kali.

Kapolres Sigi AKBP Wawan Sumantri, ST.,SH.,MH, mengatakan pihaknya masih terus melakukan pendalaman atas pengakuan tersangka.

“Namun pengakuan korban ini masih terus kita dalami karena baru ditangkap kemarin, jadi musti kita dalami lagi untuk penerapan pasal sementara itu,” ungkap Kapolres saat konferensi pers, Jumat (22/2/2019).

Untuk barang bukti, polisi mengamankan 1 Lembar jaket berwarna biru bermotif garis putih –putih, 1 Lembar sarung batik bermotif kipas berwarna coklat biru dongker dan ungu.

Kemudian, 1 Lembar baju kaos dalam berlumuran darah berwarna pink bermotif bunga, 1 lembar baju kaos berwarna putih berlumuran darah bermotifkan boneka, 1 Lembar celana pendek berwarna biru, 1 lembar celana dalam berwarna hijau bermotif bunga.

Akibat perbuatannya, tersangaka dijerat Pasal 80 Ayat (1) jo 76 C UU no.35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU no.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 15 tahun Penjara.

Seperti diberitakan sebelumnya, kronologis pembacokan terjadi saat korban Mg di jemput oleh kakaknya Irfan (13) di sekolahnya SD Inpres Salu Pondo yang berjarak 1km dari pondok ibunya.

Ditengah perjalanan, Onis menghadang keduanya. Sambil menghunus parangnya Onis berkata pada Irfan, “kamu ini yang pandang enteng saya”.

Irfan jawab, “Minta ampun saya, tidak saya pandang enteng kamu”.

Tanpa bertanya lagi Onis langsung menyerang Irfan dengan parangnya. Irfan pun berlari ke rumahnya dan meninggalkan Mg sendiri setelah berhasil menghindari sabetan parang pelaku.

Tiba di rumahnya, Irfan pun mengadukan ke ibunya peristiwa yang barusan ia alami bersama adiknya.

Tanpa panjang lebar, Irfan dan ibunya menuju TKP, namun terlambat, Mg telah ditemukan bersimbah darah dan tak bernyawa lagi. (Awal)

loading...

Bagikan Artikel Ini
  • 66
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Berita Terbaru