oleh

Masykur: Keselamatan Kerja di PT. IMIP Belum Terjamin

Bagikan Artikel Ini

PALU – Anggota DPRD Sulawesi Tengah, Muhammad Masykur mengatakan, dari banyaknya devisi kerja yang beroperasi di PT. Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), salah satu divisi yang paling vital adalah divisi furnace atau yang sering dikenal dengan tungku pembakaran.

Disebut vital karena memang melalui divisi furnace tersebut proses awal pemisahan dan pemurnian kandungan mineral dalam ore.

Namun, kata dia, kevitalan divisi furnace berbanding terbalik dengan kondisi buruh yang ditempatkan di posisi tersebut. Pasalnya, kerja di divisi furnace harus siap fisik dan mental karena berhadapan dengan tungku pemanasan yang panasnya diatas 1.000 derajat celcius.

“Kalau kita dengar penuturan sekilas dari mereka yang pernah kerja di divisi ini, tidak ada yang sanggup bertahan lama. Mereka rawan terkena percikan bara api, badan jadi kering dan bisa jadi tidak sehat dari sisi medis akibat dampak kondisi dan beban kerja,” tuturnya, Senin (29/07).

Belum lagi, kata dia, beban dan kondisi kerja seperti itu tidak dibarengi dengan tingkat pemenuhan kesejahteraan yang layak karena disamakan dengan divisi kerja lainnya.

“Dari sinilah letak ketimpangan managemen PT. IMIP dalam menetapkan standar upah. Mestinya ada perlakuan khusus bagi mereka yang dipekerjakan di divisi furnace,” sebut Masykur.

Sebab, lanjut dia, lingkungan kerja yang nyaman sangat dibutuhkan oleh pekerja untuk dapat bekerja secara optimal dan produktif. Oleh karena itu lingkungan kerja harus ditangani atau didesain sedemikian rupa sehingga menjadi kondusif terhadap pekerja untuk melaksanakan kegiatan dalam suasana yang aman dan nyaman.

Menurutnya, penurunan kemampuan berfikir demikian sangat luar biasa terjadi sesudah suhu udara melampaui 32 derajat celcius. Apalagi, kata dia, jika bekerja di atas suhu 1.000 derajat celcius, kondisi panas yang berlebihan mengakibatkan rasa letih, kantuk, mengurangi kestabilan dan meningkatkan angka kesalahan kerja.

“Perusahan sekaliber PT. IMIP hendaknya mengadaptasi standar pengupahan yang jauh lebih beradab jika hendak memanusiakan tenaga produktif yang tersedia, ketimbang mengejar nilai keuntungan produksi. Keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan buruh adalah yang lebih utama,” tekannya. [***]

Loading...
loading...

Bagikan Artikel Ini
  • 76
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Berita Terbaru