oleh

Kisah Ibu Endang yang Tinggal Sebatang Kara di Tenda Pengungsian

Bagikan Artikel Ini

Delapan bulan pascabencana gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi di Kota Palu, Sulawesi Tengah, masih banyak warga terdampak yang menghuni tenda-tenda pengungsian.

Walau tenda-tenda para pengungsian tersebut kini mulai terlihat kusam, namun para pengungsi tak punya pilihan lain selain tetap tinggal di sana. Demi sekadar berlindung dari terik matahari dan air hujan.

Salah satunya Endang Susilawati. Perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah, tahun 1967 silam ini sekarang tinggal sebatang kara di tenda pengungsian Blok D No 10 di depan pelataran Masjid Agung, Palu Barat.

Mohammad Amin, suaminya, sudah meninggal pada tahun 2016. Hubungan Endang dengan anak-anaknya -anak tiri- pun tak begitu baik.

Alhasil, kini para tetangga tenda di sanalah yang menjadi keluarga bagi Endang, tempat ia mencurahkan pahit dan getirnya hidup yang dijalaninya.

Lebaran Idul Fitri baru saja berlalu. Sebuah momen yang tepat untuk berkumpul keluarga. Akan tetapi, Endang harus tetap merayakannya dalam sepi. Ia pun mengaku tak bisa menutupi kesedihannya kala menyaksikan tetangga tendanya masih dikunjungi oleh sanak, saudara, atau kerabat.

“Mau pulang ke Jawa tak ada lagi keluarga, hanya pasrah tinggal di tenda pengungsian ini, mau kontrak tak punya uang,” ujarnya lirih, sambil sesekali menyapu bulir air mata yang mulai menetes di pipinya yang mulai keriput.

Lantas, sebelum bencana menerjang, di manakah Endang tinggal? Ia mengaku tidur di pos ronda atau di teras ruko samping Masjid Agung. Kisah hidupnya penuh perjuangan dan derita.

Lebih lanjut, Endang menceritakan tentang masa lalunya, mulai dari pertemuan dengan suami hingga akhirnya jadi sebatang kara. Perempuan berusia 52 tahun ini memulai kisahnya dengan mata berkaca-kaca.

BACA JUGA  JK: Wacana Pemindahan Ibu Kota Sulteng Berlebihan

Kedua orang tuanya meninggal kala usianya baru beranjak 12 tahun. Saat itu, ia masih tinggal di Pulau Jawa. Endang adalah anak tunggal, tidak punya kakak dan adik kandung. Tak pula sanak dan saudara orang tuanya di sana.

Hingga datanglah saudagar dari Palu yang datang berbelanja di Jawa. Ia lalu diajak oleh saudagar itu ke Palu.

Singkat cerita, di Palu, Endang tinggal di rumah saudagar yang membawanya itu, sambil bantu menjaga toko milik sang saudagar. Seiring waktu berjalan, Endang jadi tidak betah tinggal di sana karena mendapat perlakuan tak senonoh dari sang majikan.

Akhirnya, Endang pergi dari sana. Dalam pelariannya itu, ia lalu berkenalan dengan seorang pemulung bernama Mohammad Amin.

Seiring waktu berjalan, mereka jatuh cinta dan melanjutkan hubungan mereka hingga ke pelaminan. Mohammad Amin kala itu sudah memiliki tiga orang anak: dua laki-laki dan satu perempuan.

Usai menikah, Endang membantu pekerjaan suaminya sebagai pemulung. Untuk tempat tinggal, mereka kerap berpindah-pindah tempat kontrakan.

Sampai akhirnya, Mohammad Amin terserang penyakit asma dan mengembuskan napas terakhir di kampung halamannya di Kota Ampana, Kabupaten Touna, Sulawesi Tengah. Sepeninggal sang suami, hubungan Endang bersama ketiga anak tirinya itu tidak seharmonis ketika suaminya masih hidup.

Akhirnya dengan berat hati, Endang meninggalkan ketiga anak tirinya, yang kini telah memiliki kehidupan dengan keluarganya masing-masing.

Sebenarnya, Endang tidak ingin pergi jauh-jauh dari tempat suaminya dikuburkan. Namun, perlakuan anak tirinyalah yang membuatnya harus pergi jauh.

Berangkat dari situ, ia harus rela mengerjakan segala pekerjaan yang tak biasa dilakoninya demi sesuap nasi. Sebelum tinggal di pengungsian, pekerjaan yang bisa dilakoninya hanya menjual kembang dan sebotol air mineral di sekitar area pekuburan umum Pogego. Pekerjaan tersebut tetap dilakoninya hingga kini.

BACA JUGA  VIDEO: Pesan Habib Saggaf untuk Warga Sulteng Pasca Gempa

Hasil dari menjual kembang dan air meneral itulah dipakainya untuk biaya sehari- hari dan bertahan hidup. Bila rezeki dan pengunjung ramai berziarah kubur, dia bisa memperoleh uang cukup lumayan. Tapi bila sepi, kadang sehari hanya mendapat Rp 20 ribu.

Dengan fisik yang tak sekuat dulu, Endang masih harus mencari kembang dan daun pandan dengan berjalan kaki. Lokasi yang sering dituju adalah Lapangan Vatulemo yang berjarak sekitar belasan kilometer dari pekuburan umum Pogego.

Endang mengaku hanya bisa pasrah, tawakal, dan berdoa akan nasib hidupnya ke depan. Untuk membina keluarga kembali, dia masih trauma dengan apa yang pernah dialaminya. (IKM)

loading...

Bagikan Artikel Ini
  • 485
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Berita Terbaru