oleh

Golput dan Fenomena Demokrasi Milenial

Bagikan Artikel Ini

PALU – Golput dapat dikategorisasikan kedalam dua jenis yaitu Golput Teknis dan Golput Idiologi,, kedua macam tipologi golput ini selalu ada dalam sejarah pemilu di Indonesia demikian kata Sahran Raden, Anggota KPU Provinsi Sulawesi Tengah Periode 2018-2023 ini, saat menjadi pembicara pada Dialog Interaktif yang dilaksanakan oleh Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ( PMII ) Palu dan Komisariat PMII Universitas Tadulako 8/03/2019 di Palu.

Sahran yang mantan Ketua PMII Cabang Palu periode 1996-1998. itu menjelaskan bahwa yang dimaksud Golput Teknis sangat berkaitan dengan permasalahan teknis saat pemungutan suara, pemilih tidak bisa hadir ke tempat pemungutan suara (TPS) karena sesuatu hal, termasuk memilih berlibur karena hari pemilu dinyatakan sebagai libur nasional, apatis untuk datang ke TPS juga disebabkan karena tidak terdaftar dalam DPT atau tidak mendapatkan pemberitahuan memilih yakni formulir C6.
Golput teknis lebih karena faktor persoalan apatisme politik. Mereka tidak mau ikut pusing dalam persoalan publik, termasuk politik yang sesungguhnya mempunyai dampak besar dalam urusan publik.” Kata Sahran Raden. Selanjutnya yang Kedua, yakni golput yang dilakukan dengan kesadaran karena pemilik hak pilih menilai tidak ada kontestan yang pantas untuk diberi mandat. Ini dapat disebut sebagai Golput Idiologis. Sambung Sahran. Karena tidak ada kandidat yang layak, sikap politik golput dipilih sebagai protes terhadap pilihan kontestan yang terbatas. Sahran Raden menyerukan diera Milenial maka pemilih Milenial harus sadar akan pentingnya pemilu bagi mereka. generasi milenial sangat diperhitungkan pada pemilu 2019 sekarang ini. Mereka adalah bagian dari penentu kemajuan dan keberhasilan demokrasi, baik di tingkat daerah maupun nasional.

Dalam hal ini, partisipasi politik generasi milenial tentu sangat substansial karena dari persentase jumlah pemilih, generasi milenial menyumbang suara cukup banyak dalam keberlangsunganPemilu 2019.

Generasi milenial menjadi sasaran empuk bagi politisi-politisi yang ingin mengajukan diri sebagai anggota dewan karena kondisi idealis pemuda yang mudah sekali dipengaruhi tentang keberpihakan.

Dengan peran generasi milenial sebagai pemilih yang memiliki sumbangsih terhadap suara hasil pemilihan yang cukup besar, maka posisi generasi milenial menjadi sangat strategis untuk menjadi objek sasaran pemungutan suara.

Ruslan Husein Ketua Bawaslu Provinsi Sulteng yang juga menjadi narasumber kegiatan tersebut berharap kepada Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Palu perlu terlibat secara langsung bersama Bawaslu untuk mengawasi penyelenggaraan Pemilu 2019 di Sulawesi Tengah. Ruslan mengajak setiap kader PMII menjadi bagian dari pengawasan pemilu. Mengawasi pemilu adalah tugas kita bersama. Kader PMII tidak boleh golput, perlu kita generasi Milenial ini menentukan nasib bangsa dan kesejahteraan masyarakat. Ruslan Husein menambahkan bahwa Pemilu itu arena kompetisi bagi peserta pemilu, dengan demikian potensi pelanggaran nya begitu besar. Bawaslu selain bertugas melakukan penindakan juga yang penting adalah pencegahan adanya pelanggaran pemilu baik yang bersifat administrasi maupun pidana.

Taufik Lamakarate yang mewakili Polda Sulteng, menyampaikan bahwa satu prinsip pemilu yang baik adalah jika dilaksanakan dengan penuh kedamaian. Pemilu harus dilaksanakan dengan penuh kebahagiaan. Tugas polisi adalah melakukan pengamanan terhadap jalannya proses semua tahapan pemilu. Mari kita taati rambu rambu pemilu sebagaimana diatur dalam peraturan perundang undangan. Selain menjaga keamanan dalam pemilu. Pihak kepolisian memastikan bahwa dalam penyelenggaraan pemilu semua peserta pemilu saling menghargai dan menghormati selama masa kampanye. Agar kampanye memenuhi tujuannya yaitu menyampaikan pesan visi, misi dan program peserta pemilu.

Sebagaimana diketahui Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ( PMII ) Cabang palu dan PMII Komisariat Universitas Tadulako menggelar dialog interaktif dan pembukaan masa penerimaan anggota Baru ( Mapaba ) mulai tanggal 8-10 Maret 2019 di salah satu tempat Gedung Yoga Tondo Palu, Dialog Interaktif bertemakan Golput dan Fenomena Demokrasi Milenial menghadirkan Narasumber yakni : Sahran Raden, KPU Provinsi Sulawesi Tengah, Ruslan Husein, Bawaslu Provinsi Sulawesi Tengah, Taufik Lamakarate, Polda Sulteng. Peserta yang hadir berjumlah 60 orang yang berasal dari Kader PMII Komisariat Untad Palu.

loading...

Bagikan Artikel Ini
  • 29
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Berita Terbaru