oleh

BPBD: Jangan Coba-coba Membangun di Zona Merah

Bagikan Artikel Ini

PALU – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu hingga kini masih menyelesaikan pemasangan patok zona merah di beberapa titik dalam kawasan terdampak likuifaksi dan tsunami di Ibu Kota Provinsi Sulteng itu.

Kepala BPBD Palu, Presly Tampubolon, Kamis, menyatakan, pemasangan patok itu sudah berlangsung dua pekan terakhir ini di beberapa areal terlarang untuk membangun permukiman maupun tempat usaha.

Ia menjelaskan, patok tanda larangan membangun tersebut saat ini sedang dipasang di Kecamatan Tawaeli, salah satu dari delapan kecamatan di Palu yang diterjang tsunami saat gempa bumi berkekuatan 7,4 SR melanda Palu dan sekitarnya, 28 September 2018 lalu.

Untuk wilayah terdampak tsunami di Kecamatan Taweli patok zona merah dipasang sekitar 100 meter dari bibir pantai.

Pemasangan patok merah dilakukan juga di dua lokasi likuifaksi yakni Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan sebanyak 120 titik dan Kelurahan Balaroa di Kecamatan Palu Barat sebanyak 150 titik, masing-masing berjarak 50 meter.

Masyarakat diminta untuk menaati tanda larangan yang telah dipasang tersebut.

“Jangan coba-coba membangun di zona merah, karena pemerintah akan menindak tegas, sebab pemerintah telah menyiapkan lokasi bersama dengan membangun hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap),” tegasnya.

Khusus Kota Palu, kata dia, sudah ada lokasi untuk permukiman korban bencana, yakni di Kelurahan Duyu dan Kelurahan Tondo.

Terpisah, Satuan Tugas (Satgas) Validasi Data Bencana di Kota Palu juga telah menetapkan data tahap II terkait jumlah bangunan rumah penduduk yang rusak, beserta korban jiwa.

Kepala Satgas Validasi Data Kota Palu, Arfan, mengatakan, data rumah yang rusak akibat gempa, tsunami dan likuifaksi di Kota Palu tahap II, bertambah sebanyak 12.238 rumah rusak dari sebelumnya yang baru sebanyak 42.864.

BACA JUGA  UNICEF-Dinkes Palu Tetapkan 12 SD Percontohan Model Sekolah Sehat

Jumlah itu meliputi 2.422 rumah rusak berat, 3.200 rusak sedang dan 3.785 rusak ringan serta 2.831 rumah hilang sehingga total data rumah rusak tahap dua sebanyak 54.102 rumah.

“Data tersebut diperoleh dari laporan masyarakat ke pihak kelurahan,” katanya.

Selanjutnya oleh pihak kelurahan melaporkan ke Satgas Validasi Data Kota Palu untuk dilakukan pengecekan.

“Tadi malam (Kamis), data ini sudah ditetapkan oleh Wali Kota Palu,” ujar Arfan.

Sedangkan, data korban jiwa tahap dua juga bertambah menjadi 4.194 jiwa, dari sebelumnya sebanyak 3.679 jiwa.

Artinya, di tahap II ini, jumlah korban meninggal bertambah 476 orang dan 39 hilang.

Sementara pada tahap satu yang dinyatakan meninggal dunia 2.132 jiwa, 531 orang hilang dan yang tidak teridentifikasi namun telah dikebumikan 1.016 jiwa.

Sebanyak 1.016 korban meninggal yang tidak teridentifikasi tersebut, menurut dia, dikuburkan secara massal di dua tempat yakni di Tempat Pekuburan Umum (TPU) Poboya sebanyak 981 jiwa dan 35 jiwa di Kelurahan Pantoloan Boya.

Arfan mengatakan identitas korban jiwa dan rincian rumah rusak yang telah ditetapkan dalam tahap dua itu akan dipublis awal pekan depan di website Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Palu. (MAL)

loading...

Bagikan Artikel Ini
  • 119
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Berita Terbaru