Banjir di Desa Ongka, Upaya Normalisasi Sungai Oleh BPBD Dinilai Tidak Efektif

Selasa, 28 Mei 2024 malam, pukul 20.36 WITA, sejumlah wilayah kecamatan, antara lain Ongka Malino, Desa Ongka, dan Desa Malino kembali terendam banjir air sehingga merendam perkebunan, pemukiman warga, hingga penutupan akses jalan.

Kondisi banjir yang berulang dan intensitasnya semakin meningkat disebabkan oleh pengerukan sungai oleh BPBD Parigi Moutong yang tidak efektif dan pembangunan tanggul yang buruk.

Menurut Alwi, Koordinator Poros Utara Parimo, akar persoalannya terletak pada pendekatan normalisasi sungai yang salah arah.

“Daripada mengeruk bantaran sungai, sebaiknya kita fokus pada dasar sungai yang sudah menanjak dan berkelok-kelok sehingga perlu dipotong agar aliran air ke hilir bisa lebih cepat,” jelas Alwi.

Alwi menegaskan, pendekatan pencegahan banjir yang dilakukan saat ini justru kontraproduktif karena tanggul yang dibangun di bantaran sungai rawan ambruk saat hujan lebat dan banjir karena komposisi tanahnya yang berpasir.

“Bukannya mencegah banjir, tindakan tersebut justru menyebabkan banjir kembali,” tegasnya.

Koordinator Poros Utara mendesak dilakukannya penilaian ulang terhadap upaya normalisasi sungai, dengan alasan bahwa pendekatan yang dilakukan saat ini tidak sesuai dengan kondisi dan kontur tanah di wilayah tersebut.

Kepala BPBD Kabupaten Parigi Moutong Idran, ST yang dikonfirmasi mengatakan, fokusnya adalah normalisasi dasar sungai, bukan pembangunan tanggul.

“Jadi, di sini itu memang tidak ada pembuatan tanggul, hanya normalisasi. Adapun hasilnya, pasirnya dibuang kiri kanan. Bukan ke dalam sungai”, katanya kepada media ini, Rabu, 29 Mei 2024.

Sehingga katanya, terkesan bahwa timbunan itu tanggul. Padahal untuk menaikan dasar sungai ke kedua sisi, terutama di sebelah kanan sungai.

“Hal ini mungkin memberikan kesan bahwa gundukan yang dihasilkan hanyalah tumpukan pasir, padahal sebenarnya tidak ada tanggul yang dibangun”, ungkapnya.

Dalam perkembangan terkait, kepala desa sempat meminta agar sebagian sungai yang berada di bawah jembatan diluruskan.

“Kami iyakan. Alhasil sungai kemarin terbelah menjadi dua saluran. Sungai aslinya tetap ada, sedangkan sungai baru dibuat untuk mengakomodir visi kepala desa. Panjangnya sekitar 200 meter”, tuturnya.

“Jadi intinya, bukan pembuatan tanggul, tapi hanya normalisasi”, pungkasnya.

Masih Hangat